{"id":2279,"date":"2024-04-15T08:17:08","date_gmt":"2024-04-15T08:17:08","guid":{"rendered":"http:\/\/192.168.0.5\/home\/?p=145"},"modified":"2024-04-15T08:21:25","modified_gmt":"2024-04-15T08:21:25","slug":"kinara-kilau-puspanegara-memukau-2279","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/?p=2279","title":{"rendered":"KINARA KILAU \u00a0PUSPANEGARA, \u00a0MEMUKAU"},"content":{"rendered":"\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/192.168.0.5\/home\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/002-300x211.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"211\" \/>Jumat, \u00a02 Februari 2024 Lapangan SMAN 5 Yogyakarta\u00a0<em>\u00a0<\/em>menjadi\u00a0<em>magnet<\/em>\u00a0 bagi warganya. Pasalnya pagi itu seluruh kelas XII menampilkan tarian-tarian cantik nusantara yang sangat memukau para penonton.Bertajuk \u201c<em>KInara Kilau Nusantara Puspanegara<\/em>\u00a0\u201c sebagai bentuk ujian praktik seni tari kelas XII Ankatan 72 ini digawangi oleh Ibu Diah Purwandari, M.Pd. yang telah membimbing dan mendampingi para siswa sejak \u00a0\u00a0beberapa minggu lalu.Rangkaian tarian nusantara tersebut merupakan pagelaran budaya\u00a0 yang \u00a0menampilkan delapan kelompok sesuai jumlah paralel \u00a0kelas XII, Angkatan 72 Puspanegara \u00a0dengan mengusung tema-tema unik dan menarik disajikan dengan cantik sesuai tema umum \u201c \u201c<em>KInara Kilau Nusantara Puspanegara<\/em>\u00a0\u201cTari\u00a0<strong>Renjana Swarnadwipa\u00a0<\/strong>\u00a0dari kelas XII MIPA 5 mengawali pertunjukan. Renjana memiliki makna menarik dan gembira, sedangkan Swarnadwipa bermakna Sumatra. Tarian tersebut mengolaborasikan \u00a0gerakan yang lincah, enerjik, serta gemulai dengan nuansa keberagaman yang kental mampu menghipnotis para penonton. Dipentaskan secara kelompok maupun massal dengan iringan musik yang ritmis dan dinamis memadukan instrumen musik khas Melayu membangkitkan kebahagiaan penikmatnya.\u00a0Kelas XII MIPA 6 mengusung\u00a0<strong>Samsara Tarian Dayak<\/strong>\u00a0sebagai temanya. Dengan iringan \u00a0empat\u00a0 lagu,\u00a0<em>Flying High, Sink, Ruang Waktu, dan Ampar-Ampar Pisang<\/em>\u00a0\u00a0mereka memadukan keharmonisan \u00a0antara tradisi dan modernitas. Sentuhan segar seni tari suku Dayak tersebut melahirkan koreografi yang memikat hati.\u00a0Dengan gerak lemah lembut penuh hormat berlanjut gambaran tentang keanekaragaman budaya Melayu serta perkembangan kota Pontianak. Suasana kota\u00a0 yang senantiasa ceria dan gembira digambarkan melalui bentuk tarian yang lincah dan memikat perhatian. Sebuah seni tari yang bernafaskan Melayu Kalimantan berjudul\u00a0<strong>Kala Nrita Malayu\u00a0<\/strong>ditampilkan \u00a0para siswa kelas XII IPS 2.\u00a0Sementara itu, kelas XII MIPA 1 menekankan\u00a0pada integrasi dan\u00a0perpaduan elemen-elemen tari tradisional dari Jawa Timur dan Madura dalamsebuah karya tari kreasi\u00a0yang\u00a0inovatif.\u00a0<strong>Rasika Dwipa<\/strong>\u00a0merupakan\u00a0<em>The Dance Fusion of Jawa Timur and\u00a0<\/em><em>Madura yang\u00a0<\/em>memadukan \u00a0tari\u00a0<em>Ngganong<\/em>\u00a0, sebuah gambaran \u00a0patih muda yang cekatan, berkemauan keras,\u00a0cerdik, dan sakti.\u00a0<em>Tari Eblas<\/em>\u00a0menggambarkan\u00a0gadis-gadis\u00a0madura\u00a0yang\u00a0cantik,\u00a0feminim,\u00a0luwes,\u00a0lincah, dan ceria.,\u00a0<em>Tari Gandrung\u00a0<\/em>menggambarkan aksi penyelamatan sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan\u00a0oleh Kompeni. Sedangkan\u00a0<em>Tari Pecut<\/em>\u00a0mengandung filosofi\u00a0proses perjalanan\u00a0manusia\u00a0nantinya\u00a0yang\u00a0\u00a0akan\u00a0mengalami\u00a0kegagalan\u00a0maupun\u00a0kesuksesan\u00a0dalam\u00a0hidup\u00a0ini.\u00a0<strong>Kahiji\u00a0<\/strong><strong>\u00a0Kabudayaan\u00a0<\/strong>dipersembahkan\u00a0para siswa\u00a0XII MIPA 2. Tari-tarian berlatar kesenian Betawi dan Sunda\u00a0dibuka dengan tari Rampak Jimbe yang merupakan garapan stella project.\u00a0Disusul\u00a0 tarian\u00a0<em>Gajak Gijik<\/em>\u00a0\u00a0dari DKI yang memuat ragam gerak tari topeng cokek, silat, rapat nindak dan\u00a0kewer. Termasuk \u00a0<em>tari\u00a0<\/em><em>ondel-ondel<\/em>\u00a0yang menjadi ciri khas kebudayaan betawi. Tampilan\u00a0diakhiri\u00a0<em>tari Mojang Priangan<\/em>\u00a0yang\u00a0berembrio seni tari Jaipong.\u00a0Dari tanah Betawi terbang menuju Sulawesi\u00a0bersama XII IPS 1.\u00a0<strong>Mari\u00a0Jo\u00a0Torang\u00a0Ba\u00a0Uni\u00a0<\/strong>merupakan rangkaian tarian asal daerah Sulawesi. Banyak nilai dan\u00a0fisosofi dari Lagu-lagu yang mengiringinya, di antarnya Si Patokaan yang rancak\u00a0ditampilkan oleh para penari. Dua penampil terakhir yaitu kelas XII MIPA 3\u00a0dengan memilih\u00a0<strong>&#8220;Padma Smara Ring\u00a0<\/strong><strong>Dwipa Dewata&#8221;.\u00a0<\/strong>Sesuaitajuknya tarian yang dipersembahkan\u00a0berasal dari Pulau Dewata \u00a0meliputi tari\u00a0Pendhet, Janger yang tentunya iringan musiknya sangat familiar bagi siapa pun\u00a0pecinta seni. Pada pertunjukan tersebut juga menyuguhkan\u00a0<em>sendratari mini\u00a0<\/em>kisah Ramayana.\u00a0\u00a0Pertunjukan\u00a0diakhiri dengan tarian dari ujung timur Indonesia.\u00a0<strong>Etaweri To Nu Papua. \u00a0<\/strong>Sebuah tarian kolosal yang rancak,\u00a0dinamis, dan ritmis mampu mengundang pesona para penonton. Para penari dengan\u00a0penuh enerjik mengekspresikan jiwa dan rasa, dengan hentakan-hentakan kaki\u00a0maupun vokal khas Papua.\u00a0Antusiasme para penari\u00a0\u00a0menyiratkan\u00a0makna bahwa mereka benar-benar menghayati setiap gerakannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, \u00a02 Februari 2024 Lapangan SMAN 5 Yogyakarta\u00a0\u00a0menjadi\u00a0magnet\u00a0 bagi warganya. Pasalnya pagi itu seluruh kelas XII menampilkan tarian-tarian cantik nusantara yang sangat memukau para penonton.Bertajuk \u201cKInara Kilau Nusantara Puspanegara\u00a0\u201c sebagai bentuk ujian praktik seni tari kelas XII Ankatan 72 ini digawangi oleh Ibu Diah Purwandari, M.Pd. yang telah membimbing dan mendampingi para siswa sejak \u00a0\u00a0beberapa minggu lalu.Rangkaian tarian nusantara tersebut merupakan pagelaran budaya\u00a0 yang \u00a0menampilkan delapan kelompok sesuai jumlah paralel \u00a0kelas XII, Angkatan 72 Puspanegara \u00a0dengan mengusung tema-tema unik dan menarik disajikan dengan cantik sesuai tema umum \u201c \u201cKInara Kilau Nusantara Puspanegara\u00a0\u201cTari\u00a0Renjana Swarnadwipa\u00a0\u00a0dari kelas XII MIPA 5 mengawali pertunjukan. Renjana memiliki makna menarik dan gembira, sedangkan Swarnadwipa bermakna Sumatra. Tarian tersebut mengolaborasikan \u00a0gerakan yang lincah, enerjik, serta gemulai dengan nuansa keberagaman yang kental mampu menghipnotis para penonton. Dipentaskan secara kelompok maupun massal dengan iringan musik yang ritmis dan dinamis memadukan instrumen musik khas Melayu membangkitkan kebahagiaan penikmatnya.\u00a0Kelas XII MIPA 6 mengusung\u00a0Samsara Tarian Dayak\u00a0sebagai temanya. Dengan iringan \u00a0empat\u00a0 lagu,\u00a0Flying High, Sink, Ruang Waktu, dan Ampar-Ampar Pisang\u00a0\u00a0mereka memadukan keharmonisan \u00a0antara tradisi dan modernitas. Sentuhan segar seni tari suku Dayak tersebut melahirkan koreografi yang memikat hati.\u00a0Dengan gerak lemah lembut penuh hormat berlanjut gambaran tentang keanekaragaman budaya Melayu serta perkembangan kota Pontianak. Suasana kota\u00a0 yang senantiasa ceria dan gembira digambarkan melalui bentuk tarian yang lincah dan memikat perhatian. Sebuah seni tari yang bernafaskan Melayu Kalimantan berjudul\u00a0Kala Nrita Malayu\u00a0ditampilkan \u00a0para siswa kelas XII IPS 2.\u00a0Sementara itu, kelas XII MIPA 1 menekankan\u00a0pada integrasi dan\u00a0perpaduan elemen-elemen tari tradisional dari Jawa Timur dan Madura dalamsebuah karya tari kreasi\u00a0yang\u00a0inovatif.\u00a0Rasika Dwipa\u00a0merupakan\u00a0The Dance Fusion of Jawa Timur and\u00a0Madura yang\u00a0memadukan \u00a0tari\u00a0Ngganong\u00a0, sebuah gambaran \u00a0patih muda yang cekatan, berkemauan keras,\u00a0cerdik, dan sakti.\u00a0Tari Eblas\u00a0menggambarkan\u00a0gadis-gadis\u00a0madura\u00a0yang\u00a0cantik,\u00a0feminim,\u00a0luwes,\u00a0lincah, dan ceria.,\u00a0Tari Gandrung\u00a0menggambarkan aksi penyelamatan sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan\u00a0oleh Kompeni. Sedangkan\u00a0Tari Pecut\u00a0mengandung filosofi\u00a0proses perjalanan\u00a0manusia\u00a0nantinya\u00a0yang\u00a0\u00a0akan\u00a0mengalami\u00a0kegagalan\u00a0maupun\u00a0kesuksesan\u00a0dalam\u00a0hidup\u00a0ini.\u00a0Kahiji\u00a0\u00a0Kabudayaan\u00a0dipersembahkan\u00a0para siswa\u00a0XII MIPA 2. Tari-tarian berlatar kesenian Betawi dan Sunda\u00a0dibuka dengan tari Rampak Jimbe yang merupakan garapan stella project.\u00a0Disusul\u00a0 tarian\u00a0Gajak Gijik\u00a0\u00a0dari DKI yang memuat ragam gerak tari topeng cokek, silat, rapat nindak dan\u00a0kewer. Termasuk \u00a0tari\u00a0ondel-ondel\u00a0yang menjadi ciri khas kebudayaan betawi. Tampilan\u00a0diakhiri\u00a0tari Mojang Priangan\u00a0yang\u00a0berembrio seni tari Jaipong.\u00a0Dari tanah Betawi terbang menuju Sulawesi\u00a0bersama XII IPS 1.\u00a0Mari\u00a0Jo\u00a0Torang\u00a0Ba\u00a0Uni\u00a0merupakan rangkaian tarian asal daerah Sulawesi. Banyak nilai dan\u00a0fisosofi dari Lagu-lagu yang mengiringinya, di antarnya Si Patokaan yang rancak\u00a0ditampilkan oleh para penari. Dua penampil terakhir yaitu kelas XII MIPA 3\u00a0dengan memilih\u00a0&#8220;Padma Smara Ring\u00a0Dwipa Dewata&#8221;.\u00a0Sesuaitajuknya tarian yang dipersembahkan\u00a0berasal dari Pulau Dewata \u00a0meliputi tari\u00a0Pendhet, Janger yang tentunya iringan musiknya sangat familiar bagi siapa pun\u00a0pecinta seni. Pada pertunjukan tersebut juga menyuguhkan\u00a0sendratari mini\u00a0kisah Ramayana.\u00a0\u00a0Pertunjukan\u00a0diakhiri dengan tarian dari ujung timur Indonesia.\u00a0Etaweri To Nu Papua. \u00a0Sebuah tarian kolosal yang rancak,\u00a0dinamis, dan ritmis mampu mengundang pesona para penonton. Para penari dengan\u00a0penuh enerjik mengekspresikan jiwa dan rasa, dengan hentakan-hentakan kaki\u00a0maupun vokal khas Papua.\u00a0Antusiasme para penari\u00a0\u00a0menyiratkan\u00a0makna bahwa mereka benar-benar menghayati setiap gerakannya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-2279","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2279","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2279"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2279\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2279"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2279"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sman5yk.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2279"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}